JANGAN pernah sekali-kali memelesetkan nama Kabupaten Aceh Selatan menjadi "Aceh Ketelatan". Gubernur Aceh Ibrahim Hasan (1986-1993) mengakui ditantang dengan pelesetan itu. Aceh Selatan memang telat membangun dibandingkan dengan kabupaten lainnya di pesisir timur Provinsi Aceh saat itu.
Maka, proses pembangunan di
"Di Jakarta ada jembatan, tetapi tak ada sungai, namanya jembatan layang. Di Aceh ini, ada sungai dan jalan seadanya, tetapi tak ada jembatan," kata Ibrahim Hasan saat itu. Kalimat itu menggambarkan bagaimana sesungguhnya kondisi transportasi darat di wilayah tersebut yang sangat memprihatinkan.
Gebrakan membangun jalan dan jembatan diharapkan mampu membangkitkan gairah ekonomi. Kota-kota seperti Blang Pidie dan Tapak Tuan diharapkan menjadi hidup dengan lancarnya arus transportasi. Pemasaran hasil bumi rakyat pun dalam pandangan Ibrahim Hasan harus lancar dan harganya terjamin. Tidak ada lagi yang mempermainkan harga pala, misalnya, dengan alasan sulitnya angkutan akibat kondisi jalan yang buruk.
Blang Pidie yang tadinya ibu
Dalam perkembangan selanjutnya, Blang Pidie kemudian menjadi ibu
Membaiknya kondisi transportasi yang kemudian diikuti pemekaran kabupaten telah menjadikan kawasan itu berkembang baik seiring dengan pemberlakuan otonomi. Lalu, pala yang sejak lama menjadi "primadona" ekonomi rakyat Aceh Selatan pun ikut berkembang meski dalam perjalanan menderita akibat penyakit.
TAHUN 1992, Sayed Mudhahar Ahmad, Bupati Aceh Selatan kala itu, menulis buku Ketika Pala Mulai Berbunga. Dia memfokuskan tulisannya pada pala sebagai latar belakang wajah Aceh Selatan. Pala yang wangi, tanaman yang hidup subur di
Tetapi selanjutnya, sang primadona didera penyakit. Dia tak seperti dulu lagi. Catatan pemerintah setempat menyebutkan sekitar 30 persen dari 9.843 hektar tanaman pala di
Kondisi ini membuat produksi pala anjlok. Dan, yang paling merasakan adalah petani yang menjadikan pala sebagai primadona sejak lama. Perekonomian mereka terganggu.
Tahun 2001, menurut data pemerintah setempat, Aceh Selatan menghasilkan 4.937 ton pala dari 4.424 hektar lahan yang ditanami pala.
Kalau ditengok ke belakang, tahun 1994, misalnya, luas areal tanaman mencapai 11.245 hektar. Namun kemudian terus menyusut akibat serangan penyakit. Tahun 2001 tercatat 9.843 hektar. Bukan mustahil pula luas areal produktif sekarang makin menciut pula karena serangan penyakit terhadap tanaman itu belum teratasi. Belum ada data terakhir tentang itu.
Kalangan petani mengatakan, penyakit pala muncul akibat serangan sejenis kumbang yang melubangi pohon pala dan mengisap cairan batang tanaman itu. Lama-kelamaan tanaman itu mati. Dinas Perkebunan menyebut kumbang itu dengan nama bathocera.
Konon, jenis binatang itu sudah lama ada, namun tidak mengganggu tanaman pala. Dia menjadi mangsa burung hutan. Namun, dalam perkembangannya, burung-burung hutan itu, seperti murai batu dan cicem pala (burung yang hidup di pohon pala), makin sulit ditemukan. Kabarnya, populasinya semakin terancam. Banyak yang memburu karena dapat dijual dengan harga mahal. Selain itu, habitatnya di hutan juga terancam oleh penebangan kayu.
Selain akibat kumbang penggerek, tanaman pala juga diserang
Memberantas kedua
Serangan
Terjadi pula penurunan produksi dalam kurun waktu itu, rata-rata 325 ton tiap tahun. Padahal, lebih dari 15.000 keluarga menggantungkan ekonomi keluarganya dari produksi pala. Pendapatan daerah pun ikut terpengaruh.
Kini, dengan harga pala kering sekitar Rp 12.000 per kilogram, petani bisa agak bernapas lega. Bila produksi tahun 2001 yang hampir 5.000 ton bisa dipertahankan, petani Aceh Selatan bisa meraih Rp 60 miliar dari pala.
Tetapi, itu semuanya hanya data. Di lapangan, petani yang paling tahu karena mereka yang merasakan. Pala "sang primadona" kini memang sedang sakit. (nj)
Kompas
Kamis, 24 April 2003


