
"Ketika pala Mulai Berbunga” itulah judul buku yang ditulis oleh Sayed Mudhahar Ahmad pada tahun 1992 silam. Tak heran memang. Di tengah kepemimpinan beliau sebagai bupati masih bisa menyisihkan waktu untuk menulis. Buku itu mengulas tentang kecintaan beliau terhadap tanaman yang mengangkat nama Aceh Selatan hingga dijuluki sebagai negeri pala. Beralasan memang ketika beliau mengangkat judul tersebut. Tanaman ini mampu menjadikan petani bisa menikmati hasil yang memuaskan dibanding tanaman lain. Pala adalah komoditi andalan di Aceh Selatan, sejak dulu daerah ini dikenal sebagai penghasil pala terbesar di Aceh (bahkan di Sumatra). Kini zaman telah berubah memang. Sekitar sepuluh tahun lalu kita bisa menyaksikan pemandangan indah jejeran pohon pala yang hijau dan segar di sepanjang jalan. Mulai dari Meukek sampai Pasie Raja.
Namun sekarang semua itu berubah 180 derjat. Pohon pala yang dulunya hijau dan asri kini kuning dan bahkan banyak yang mati.
Kabupaten Aceh Selatan yang berpenduduk sebanyak 261.307 (tahun 2000) adalah daerah yang
sangat strategis untuk pengembangan komoditi pertanian pala.
Sekitar lima belas tahun yang lalu (pada masa pemerintahan Sayed Mudhahar Ahmad), sektor pertanian menjadi perhatian utama. Beliau menghabiskan waktu untuk turun kedaerah-daerah melihat para petani dan mendengarkan keluhan mereka. Semua masukan yang beliau terima menjadi acuan program peningkatan prospek pertanian. Irigasi pun dibangun untuk memudahkan petani mengakses air yang selalu tersedia dikala diperlukan. Pada saat itu harga pala memang tidak begitu besar, berkisar Rp. 1.000,-/kg.
Namun harga tersebut masih bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Kini dikala harga pala naik malah banyak yang mati. Pala sebagai komoditi yang mampu menembus pasar internasional diharapkan mampu meningkatkan taraf perekonomian rakyat ke arah yang lebih baik. Peluang itu terbuka lebar dengan dijadikannya Sabang sebagai Free Trade Area. Ini menjadi pendukung untuk mengekspor pala keluar negeri sehingga harga jual petani bisa lebih tinggi bila dibandingkan dengan harga yang selama ini dilepas kepada para penampung di Medan. Dari 75.235 Ha perkebunan, 9.843 Ha diantaranya ditanami pala.
Sampai sekarang terus mengalami penyusutan akibat hama penggerek batang. Kalangan petani mengaku, penyakit pala muncul akibat serangan sejenis kumbang. Hama jenis ini melubangi pohon pala dan mengisap cairan batang tanaman. Lama-kelamaan tanaman itu mati. Dinas Perkebunan menyebut kumbang itu dengan nama bathocera. Menurut petani tanaman pala tidak hanya diserang oleh hama tersebut. Ada juga berupa ulat yang menyebabkan tanaman ini menjadi layu dan kemudian mati.
“Pane na lom semenjak keunong peunyaket nyan bak pala habeh mate, dak tapula laen pih matee cit (mana ada lagi semenjak kena penyakit itu pohon pala habis mati kalaupun kita tanam lain mati juga)” ujar Nasir pasrah. Keluhan Nasir merupakan jeritan para petani pala yang sudah berlangsung hampir sepuluh tahun. Berbagai upaya telah dilakukan oleh petani. Diantaranya dengan mencabut semua batang yang sudah layu dan bahkan yang sudah mati. Hal itu dimaksudkan untuk mengatasi agar tidak menjalar pada pohon lain. Namun usaha itu sia-sia. penyakit tanaman yang kian menakutkan tersebut membuat petani kebingungan mencari solusi pengobatannya, sehingga mengakibatkan puluhan hektar tanaman tersebut kering dan mati. Ada juga yang sengaja mencabut semua batang yang sudah mulai layu kemudian membersihkan kembali lahan mereka untuk ditanami kembali dengan bibit yang baru.
Pada awalnya semua bibit tumbuh normal dan subur. Mereka kembali bergairah dikala melihat tanaman mereka dapat tumbuh segar kembali dan memberikan asa baru. Namun ketika pohon pala sudah mencapai ketinggian 1-2 meter kembali layu dan akhirnya mati lagi. Seharusnya pihak terkait meneliti lebih lanjut tentang hama yang menyerang tanaman primadona Aceh Selatan ini. Baiknya dengan melibatkan pihak universitas (mahasiswa dan para pakar) yang bergelut dibidang hama tanaman. Bahkan jika perlu didatangkan para pakar dari IPB untuk membuat penelitian disana guna menemukan obat pembasmi hama. Sampai saat ini belum ada upaya serius dari pemerintah daerah setempat untuk mengatasi derita para petani ini sebagai mana mereka harapkan. Jika tidak segera diatasi, pala akan menjadi barang langka di Aceh Selatan. Petani kini menanti perhatian serius dari pemerintah khusunya Pemda. Apalagi bupatinya seorang sarjana pertanian. Sudah sepatutnyalah meluangkan waktu dan tenaga membantu para petani pala lebih dari 15.000 keluarga.
December 21st, 2006 by fordilas
Namun sekarang semua itu berubah 180 derjat. Pohon pala yang dulunya hijau dan asri kini kuning dan bahkan banyak yang mati.
Kabupaten Aceh Selatan yang berpenduduk sebanyak 261.307 (tahun 2000) adalah daerah yang
sangat strategis untuk pengembangan komoditi pertanian pala.
Sekitar lima belas tahun yang lalu (pada masa pemerintahan Sayed Mudhahar Ahmad), sektor pertanian menjadi perhatian utama. Beliau menghabiskan waktu untuk turun kedaerah-daerah melihat para petani dan mendengarkan keluhan mereka. Semua masukan yang beliau terima menjadi acuan program peningkatan prospek pertanian. Irigasi pun dibangun untuk memudahkan petani mengakses air yang selalu tersedia dikala diperlukan. Pada saat itu harga pala memang tidak begitu besar, berkisar Rp. 1.000,-/kg.
Namun harga tersebut masih bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Kini dikala harga pala naik malah banyak yang mati. Pala sebagai komoditi yang mampu menembus pasar internasional diharapkan mampu meningkatkan taraf perekonomian rakyat ke arah yang lebih baik. Peluang itu terbuka lebar dengan dijadikannya Sabang sebagai Free Trade Area. Ini menjadi pendukung untuk mengekspor pala keluar negeri sehingga harga jual petani bisa lebih tinggi bila dibandingkan dengan harga yang selama ini dilepas kepada para penampung di Medan. Dari 75.235 Ha perkebunan, 9.843 Ha diantaranya ditanami pala.
Sampai sekarang terus mengalami penyusutan akibat hama penggerek batang. Kalangan petani mengaku, penyakit pala muncul akibat serangan sejenis kumbang. Hama jenis ini melubangi pohon pala dan mengisap cairan batang tanaman. Lama-kelamaan tanaman itu mati. Dinas Perkebunan menyebut kumbang itu dengan nama bathocera. Menurut petani tanaman pala tidak hanya diserang oleh hama tersebut. Ada juga berupa ulat yang menyebabkan tanaman ini menjadi layu dan kemudian mati.
“Pane na lom semenjak keunong peunyaket nyan bak pala habeh mate, dak tapula laen pih matee cit (mana ada lagi semenjak kena penyakit itu pohon pala habis mati kalaupun kita tanam lain mati juga)” ujar Nasir pasrah. Keluhan Nasir merupakan jeritan para petani pala yang sudah berlangsung hampir sepuluh tahun. Berbagai upaya telah dilakukan oleh petani. Diantaranya dengan mencabut semua batang yang sudah layu dan bahkan yang sudah mati. Hal itu dimaksudkan untuk mengatasi agar tidak menjalar pada pohon lain. Namun usaha itu sia-sia. penyakit tanaman yang kian menakutkan tersebut membuat petani kebingungan mencari solusi pengobatannya, sehingga mengakibatkan puluhan hektar tanaman tersebut kering dan mati. Ada juga yang sengaja mencabut semua batang yang sudah mulai layu kemudian membersihkan kembali lahan mereka untuk ditanami kembali dengan bibit yang baru.
Pada awalnya semua bibit tumbuh normal dan subur. Mereka kembali bergairah dikala melihat tanaman mereka dapat tumbuh segar kembali dan memberikan asa baru. Namun ketika pohon pala sudah mencapai ketinggian 1-2 meter kembali layu dan akhirnya mati lagi. Seharusnya pihak terkait meneliti lebih lanjut tentang hama yang menyerang tanaman primadona Aceh Selatan ini. Baiknya dengan melibatkan pihak universitas (mahasiswa dan para pakar) yang bergelut dibidang hama tanaman. Bahkan jika perlu didatangkan para pakar dari IPB untuk membuat penelitian disana guna menemukan obat pembasmi hama. Sampai saat ini belum ada upaya serius dari pemerintah daerah setempat untuk mengatasi derita para petani ini sebagai mana mereka harapkan. Jika tidak segera diatasi, pala akan menjadi barang langka di Aceh Selatan. Petani kini menanti perhatian serius dari pemerintah khusunya Pemda. Apalagi bupatinya seorang sarjana pertanian. Sudah sepatutnyalah meluangkan waktu dan tenaga membantu para petani pala lebih dari 15.000 keluarga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar