Senin, 01 Desember 2008

Satu Jalan Panjang dan Pahit, dari Perbudakan Sampai ke Gedung Putih


Washington


Sebelum Barack Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44 dari kulit hitam pertama, ternyata banyak hal pahit yang dialami dalam dalam sejarah warga Amerika keturunan Afrika di AS. Kemenangan Obama merupakan sebuah penegasan akan hasil dari perjuangan berat tersebut. Berikut tanggal-tanggal penting yang patut dicatat, bahwa demokrasi Amerika tak selamanya berjalan mulus dan lurus.

  • Tahun 1619: Budak-budak pertama Afrika mendarat di koloni Inggris Virginia. Perbudakan adalah menjadi motor utama dalam pembangunan di negara yang sekarang bernama Amerika Serikat itu.
  • Tahun 1776: Para patriot Amerika mengumumkan kemerdekaan dari Inggris dalam satu pertengkaran menyangkut pajak. Tetapi tidak ada pertikaian menyangkut perbudakan, yang bahkan dipraktekkan oleh presiden pertama negara baru itu, George Washington.
  • Awal abad ke-19 : Perbudakan dan perdagangan budak berangsur-angsur ditinggalkan oleh sebagian besar negara-negara Eropa.
  • Tahun 1861-65: Perbudakan , meluas di Konfederasi Selatan tetapi umumnya ditentang di Utara, adalah masalah utama dibelakang Perang Saudara Amerika, yang berakhir dengan kemenangan Utara.
  • Tahun 1865: Amendemen ke-13 konstitusi yang secara resmi menghapuskan perbudakan. Ku Klux Klan , satu organisasi masyarakat supremasi, dibentuk.
  • Tahun 1896: Mahkamah Agung menetapkan mengizinkan pemisahan rasial. Dengan mengatakan ras-ras mungkin "berbeda tetapi sederajat," keputusan itu mengizinkan apa yang disebut undang-undang diskriminasi "Jim Crow."
  • Tahun 1909: Didirikan Yayasan Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Orang Kulit Berwarna (NAACP).
  • Tahun 1941-1945: Para warga Amerika keturunan Afrika ikut berperang bersama AS dalam Perang Dunia II, tetapi umumnya dalam kesatuan-kesatuan yang terpisah.
  • Tahun 1949: Satu keputusan presiden secara resmi mengakhiri pemisahan dalam angkatan bersenjata.
  • Tahun 1954 : Mahkamah Agung melarang pemisahan ras di sekolah-sekolah.
  • Tahun 1955 " Seorang aktivis sipil kulit hitam , Rosa Parks, memicu satu gerakan massa karena menolak menyerahkan kursinya kepada soerang warga kulit putih di sebuah bus Alabama. Muncul Martin Luther King, seorang pemimpin hak sipil yang karismatik dan terkemuka.
  • Tahun 1957 Kongres menyetujui Undang-Undang Hak Sipil , yang menjamin semua warga kulit hitam hak untuk memilih. Tetapi tetap merupakan satu dokumen yang mati di banyak negara selatan. Tahun 1960: Satu amendemen terhadap Undang Hak Sipil mengenakan hukum terhadap siapapun yang mengganggu usaha seseorang untuk memilih atau dipilih.
  • Tahun 1963: Satu puncak gerakan hak-hak sipil , yang menimbulkan aksi kekerasan yang serius di banyak bagian negara itu, Martin Luher King berpidato dihadapan 200.000 orang di Washington DC.
  • "Saya memimpikan bahwa empat anak saya pada satu hari tinggal di sebuah negara di mana mereka tidak akan diperlakukan berdasarkan warna kulit mereka," katanya.
  • Tahun 1966 : Para aktivis radikal di Kalifornia mendirikan Partai Panther Hitam .
  • Tahun 1968 : Martin Luther King dibunuh , dan krrusuhsn rasisl melanda negara itu. Para atlit yang ikut serta dalam Olimpiade Meksiko memberikan pengorhamatan kepada Kekuatan Hitam."
  • Tahun 1989: Colin Powell menjadi warga Amerika- Afrika memimpin angkatan bersenjata AS. Ia kemudian menjadi menlu pertama asal kulit hitam.
  • Tahun 1992 : Kerusuhan rasial menyebabkan pemukulan terhadap para pengendara kendaraan kulit hitam oleh polisi yang menyebabkan paling tidak 59 orang tewas di Los Angeles.
  • Tahun 1995 : Satu rapat yang diselenggarakan oleh organisasi Nation of Islam mengundang 800.000 orang Amerika-Afrika ke Washington.
  • Tahun 2005: Condoleezza Rice menjadi wanita kulit hitam pertama menjadi menteri luar negeri.
  • Tahun 2008 : Barack Obama , seorang senator Partai Demokrat dari Illinois menjadi presiden terpilih AS pertama dari warga Amerika keturunan Afrika.(ant) Harian Aceh.

Sabtu, 08 November 2008

Primadona yang Sedang Sakit


JANGAN pernah sekali-kali memelesetkan nama Kabupaten Aceh Selatan menjadi "Aceh Ketelatan". Gubernur Aceh Ibrahim Hasan (1986-1993) mengakui ditantang dengan pelesetan itu. Aceh Selatan memang telat membangun dibandingkan dengan kabupaten lainnya di pesisir timur Provinsi Aceh saat itu.

Maka, proses pembangunan di sana pun harus digenjot. Jawaban atas "ketelatan" itu antara lain dengan memperlancar arus transportasi darat. Lintas pantai barat dari Banda Aceh hingga ke Sumatera Utara harus lancar, sama seperti di kawasan pantai timur dari Banda Aceh ke Medan. Peningkatan badan jalan dan jembatan menjadi prioritas dengan menghabiskan dana yang tidak sedikit.

"Di Jakarta ada jembatan, tetapi tak ada sungai, namanya jembatan layang. Di Aceh ini, ada sungai dan jalan seadanya, tetapi tak ada jembatan," kata Ibrahim Hasan saat itu. Kalimat itu menggambarkan bagaimana sesungguhnya kondisi transportasi darat di wilayah tersebut yang sangat memprihatinkan.

Gebrakan membangun jalan dan jembatan diharapkan mampu membangkitkan gairah ekonomi. Kota-kota seperti Blang Pidie dan Tapak Tuan diharapkan menjadi hidup dengan lancarnya arus transportasi. Pemasaran hasil bumi rakyat pun dalam pandangan Ibrahim Hasan harus lancar dan harganya terjamin. Tidak ada lagi yang mempermainkan harga pala, misalnya, dengan alasan sulitnya angkutan akibat kondisi jalan yang buruk.

Blang Pidie yang tadinya ibu kota kecamatan pun kemudian makin berkembang. Malah, ada yang berpendapat, perkembangannya melebihi Tapak Tuan, ibu kota Kabupaten Aceh Selatan. "Orang Tapak Tuan malah beli pakaian ke Blang Pidie," kata Munardi, warga setempat.

Dalam perkembangan selanjutnya, Blang Pidie kemudian menjadi ibu kota Kabupaten Aceh Barat Daya setelah Aceh Selatan dimekarkan menjadi tiga kabupaten. Kabupaten baru lainnya adalah Aceh Singkil yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara.

Membaiknya kondisi transportasi yang kemudian diikuti pemekaran kabupaten telah menjadikan kawasan itu berkembang baik seiring dengan pemberlakuan otonomi. Lalu, pala yang sejak lama menjadi "primadona" ekonomi rakyat Aceh Selatan pun ikut berkembang meski dalam perjalanan menderita akibat penyakit.

TAHUN 1992, Sayed Mudhahar Ahmad, Bupati Aceh Selatan kala itu, menulis buku Ketika Pala Mulai Berbunga. Dia memfokuskan tulisannya pada pala sebagai latar belakang wajah Aceh Selatan. Pala yang wangi, tanaman yang hidup subur di sana dan menghasilkan banyak rupiah adalah puncak ekonomi rakyat dan kebanggaan mereka. Sampul buku Sayed juga bergambar buah pala.

Tetapi selanjutnya, sang primadona didera penyakit. Dia tak seperti dulu lagi. Catatan pemerintah setempat menyebutkan sekitar 30 persen dari 9.843 hektar tanaman pala di sana terserang penyakit.

Kondisi ini membuat produksi pala anjlok. Dan, yang paling merasakan adalah petani yang menjadikan pala sebagai primadona sejak lama. Perekonomian mereka terganggu.

Tahun 2001, menurut data pemerintah setempat, Aceh Selatan menghasilkan 4.937 ton pala dari 4.424 hektar lahan yang ditanami pala. Ada 2.289 hektar lahan pala lainnya yang belum berproduksi saat itu karena umur tanaman masih muda. Namun, areal yang tak berproduksi akibat penyakit justru lebih luas, 3.130 hektar.

Kalau ditengok ke belakang, tahun 1994, misalnya, luas areal tanaman mencapai 11.245 hektar. Namun kemudian terus menyusut akibat serangan penyakit. Tahun 2001 tercatat 9.843 hektar. Bukan mustahil pula luas areal produktif sekarang makin menciut pula karena serangan penyakit terhadap tanaman itu belum teratasi. Belum ada data terakhir tentang itu.

Kalangan petani mengatakan, penyakit pala muncul akibat serangan sejenis kumbang yang melubangi pohon pala dan mengisap cairan batang tanaman itu. Lama-kelamaan tanaman itu mati. Dinas Perkebunan menyebut kumbang itu dengan nama bathocera.

Konon, jenis binatang itu sudah lama ada, namun tidak mengganggu tanaman pala. Dia menjadi mangsa burung hutan. Namun, dalam perkembangannya, burung-burung hutan itu, seperti murai batu dan cicem pala (burung yang hidup di pohon pala), makin sulit ditemukan. Kabarnya, populasinya semakin terancam. Banyak yang memburu karena dapat dijual dengan harga mahal. Selain itu, habitatnya di hutan juga terancam oleh penebangan kayu.

Selain akibat kumbang penggerek, tanaman pala juga diserang hama lain yang menyebabkan daunnya layu dan rantingnya berjatuhan.

Memberantas kedua hama itu dengan menggunakan insektisida tak banyak membawa hasil. Kondisi keamanan yang belum mendukung serta biaya yang tinggi menyebabkan upaya itu sering terkendala. Banyak tanaman pala kini hidup merana dan mati. Kebun pala yang terserang hama itu pun banyak ditinggalkan. Ada sejumlah petani yang beralih menanam nilam, namun juga mendapat serangan hama daun.

Serangan hama yang menyedihkan itu juga kadang membuat petani bingung ketika harga jual pala anjlok. Misalnya, dalam kurun waktu 1990-1995, harga pala kering Rp 1.000 per bambu (dua liter atau sekitar 1,5 kilogram). Tanaman pala pun kemudian bagai diabaikan petani.

Terjadi pula penurunan produksi dalam kurun waktu itu, rata-rata 325 ton tiap tahun. Padahal, lebih dari 15.000 keluarga menggantungkan ekonomi keluarganya dari produksi pala. Pendapatan daerah pun ikut terpengaruh.

Kini, dengan harga pala kering sekitar Rp 12.000 per kilogram, petani bisa agak bernapas lega. Bila produksi tahun 2001 yang hampir 5.000 ton bisa dipertahankan, petani Aceh Selatan bisa meraih Rp 60 miliar dari pala.

Tetapi, itu semuanya hanya data. Di lapangan, petani yang paling tahu karena mereka yang merasakan. Pala "sang primadona" kini memang sedang sakit. (nj)

Kompas

Kamis, 24 April 2003

Ketika Pala Mulai Mati



"Ketika pala Mulai Berbunga” itulah judul buku yang ditulis oleh Sayed Mudhahar Ahmad pada tahun 1992 silam. Tak heran memang. Di tengah kepemimpinan beliau sebagai bupati masih bisa menyisihkan waktu untuk menulis. Buku itu mengulas tentang kecintaan beliau terhadap tanaman yang mengangkat nama Aceh Selatan hingga dijuluki sebagai negeri pala. Beralasan memang ketika beliau mengangkat judul tersebut. Tanaman ini mampu menjadikan petani bisa menikmati hasil yang memuaskan dibanding tanaman lain. Pala adalah komoditi andalan di Aceh Selatan, sejak dulu daerah ini dikenal sebagai penghasil pala terbesar di Aceh (bahkan di Sumatra). Kini zaman telah berubah memang. Sekitar sepuluh tahun lalu kita bisa menyaksikan pemandangan indah jejeran pohon pala yang hijau dan segar di sepanjang jalan. Mulai dari Meukek sampai Pasie Raja.
Namun sekarang semua itu berubah 180 derjat. Pohon pala yang dulunya hijau dan asri kini kuning dan bahkan banyak yang mati.

Kabupaten Aceh Selatan yang berpenduduk sebanyak 261.307 (tahun 2000) adalah daerah yang
sangat strategis untuk pengembangan komoditi pertanian pala.

Sekitar lima belas tahun yang lalu (pada masa pemerintahan Sayed Mudhahar Ahmad), sektor pertanian menjadi perhatian utama. Beliau menghabiskan waktu untuk turun kedaerah-daerah melihat para petani dan mendengarkan keluhan mereka. Semua masukan yang beliau terima menjadi acuan program peningkatan prospek pertanian. Irigasi pun dibangun untuk memudahkan petani mengakses air yang selalu tersedia dikala diperlukan. Pada saat itu harga pala memang tidak begitu besar, berkisar Rp. 1.000,-/kg.

Namun harga tersebut masih bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Kini dikala harga pala naik malah banyak yang mati. Pala sebagai komoditi yang mampu menembus pasar internasional diharapkan mampu meningkatkan taraf perekonomian rakyat ke arah yang lebih baik. Peluang itu terbuka lebar dengan dijadikannya Sabang sebagai Free Trade Area. Ini menjadi pendukung untuk mengekspor pala keluar negeri sehingga harga jual petani bisa lebih tinggi bila dibandingkan dengan harga yang selama ini dilepas kepada para penampung di Medan. Dari 75.235 Ha perkebunan, 9.843 Ha diantaranya ditanami pala.

Sampai sekarang terus mengalami penyusutan akibat hama penggerek batang. Kalangan petani mengaku, penyakit pala muncul akibat serangan sejenis kumbang. Hama jenis ini melubangi pohon pala dan mengisap cairan batang tanaman. Lama-kelamaan tanaman itu mati. Dinas Perkebunan menyebut kumbang itu dengan nama bathocera. Menurut petani tanaman pala tidak hanya diserang oleh hama tersebut. Ada juga berupa ulat yang menyebabkan tanaman ini menjadi layu dan kemudian mati.

“Pane na lom semenjak keunong peunyaket nyan bak pala habeh mate, dak tapula laen pih matee cit (mana ada lagi semenjak kena penyakit itu pohon pala habis mati kalaupun kita tanam lain mati juga)” ujar Nasir pasrah. Keluhan Nasir merupakan jeritan para petani pala yang sudah berlangsung hampir sepuluh tahun. Berbagai upaya telah dilakukan oleh petani. Diantaranya dengan mencabut semua batang yang sudah layu dan bahkan yang sudah mati. Hal itu dimaksudkan untuk mengatasi agar tidak menjalar pada pohon lain. Namun usaha itu sia-sia. penyakit tanaman yang kian menakutkan tersebut membuat petani kebingungan mencari solusi pengobatannya, sehingga mengakibatkan puluhan hektar tanaman tersebut kering dan mati. Ada juga yang sengaja mencabut semua batang yang sudah mulai layu kemudian membersihkan kembali lahan mereka untuk ditanami kembali dengan bibit yang baru.

Pada awalnya semua bibit tumbuh normal dan subur. Mereka kembali bergairah dikala melihat tanaman mereka dapat tumbuh segar kembali dan memberikan asa baru. Namun ketika pohon pala sudah mencapai ketinggian 1-2 meter kembali layu dan akhirnya mati lagi. Seharusnya pihak terkait meneliti lebih lanjut tentang hama yang menyerang tanaman primadona Aceh Selatan ini. Baiknya dengan melibatkan pihak universitas (mahasiswa dan para pakar) yang bergelut dibidang hama tanaman. Bahkan jika perlu didatangkan para pakar dari IPB untuk membuat penelitian disana guna menemukan obat pembasmi hama. Sampai saat ini belum ada upaya serius dari pemerintah daerah setempat untuk mengatasi derita para petani ini sebagai mana mereka harapkan. Jika tidak segera diatasi, pala akan menjadi barang langka di Aceh Selatan. Petani kini menanti perhatian serius dari pemerintah khusunya Pemda. Apalagi bupatinya seorang sarjana pertanian. Sudah sepatutnyalah meluangkan waktu dan
tenaga membantu para petani pala lebih dari 15.000 keluarga.

December 21st, 2006 by fordilas

Hikayat Pala; Mengempeskan Kemiskinan


Prosesi Pilkada Aceh Selatan telah usai. Biasa dalam berdemokrasi ada riak-riak yang tersisa, diharapkan bisa menjadi dinamika di daerah penghasil pala itu. Sebab seperti janji para kandidat, di depan terbentang harapan bagaimana merealisirnya. Dua program utama yaitu mengempeskan kemiskinan dan mengusir keterbelakangan lewat usaha memacu pendidikan.

Memang sekarang ini hikayat negeri pala itu tak seindah untaian sajak Ketika Pala Mulai Berbunga oleh almarhum Sayed Mudhahar Ahmad (mantan bupati Aceh Selatan). Ketika itu nuansa keceriaan begitu kentara. Berikut sajaknya:

//Ketika pala mulai berbunga/ Burung-burung syairkan kerinduan/ Tentang air yang mengalir dari hutan/ Tentang jalan setapak yang panjang/ Ketika pala mulai berbunga/ Ada angin nyanyikan cinta/ Embun berkilau di daunannya/ Pelangi menari di tangkainya/ Tiba saatnya memetik rembulan dan matahari/ musim panen ladang sendiri, dari ladang sendiri/ Zamrut yang hijaukan hutan-hutan adalah bias masa depan/ Ketika pala mulai berbunga/ Wanginya mekarkan cita-cita/ Ketika pala mulai berbunga/ Ada cahaya di raut wajah bunda.

Untaian dari sajak itu, menurut Fachry Ali dalam artikelnya Mengayuh Diantara Dua Sajak; Essay Tentang Aceh Selatan , menukilkan pengharapan, basis ekonomi dan sekaligus sebagai simbol yang menggerakkan roda kemasyarakatan. Lewat simbol buah pala, sang penyair menarik identitas sosial ekonomi Aceh Selatan ke masa lampau. Demikian tulis Fakhry Ali tentang Aceh Selatan. Kini nuansa keceriaan itu semakin meredup, embun tidak lagi berkilau di daunannya, pelangi tidak lagi menari di tangkainya.

Sekitar penghujung tahun 1984, ketika Profesor Ibrahim Hasan masih menjabat sebagai gubernur Aceh, beliau pernah membandingkan perkembangan kemajuan dan kesenjangan antar wilayah di Aceh hingga mengidentikkan Aceh Selatan sebagai Aceh Ketelatan . Maknanya menurut Ibrahim Hasan, Aceh Selatan merupakan bagian wilayah Aceh yang terlambat pembangunannnya, sehingga relatif tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itu menurutnya harus ada kemauan keras dari berbagai lapisan masyarakat agar bersinergi memacu kemajuan pembangunan dalam wilayah ini. Dengan demikian label negatif ketelatan, ketertinggalan dan keterbelakangan dapat segera sirna. Demikian beberapa potong kalimat yang pernah terucap dari mulut Gubernur Aceh kala itu. Penggalan kalimat tersebut memperkuat memori saya ketika almarhum Sayed Mudhahar Ahmad mantan Bupati Aceh Selatan masih mengulang-ngulangnya lagi beberapa waktu kemudian.

Penamaan Aceh Selatan sebagai Aceh Ketelatan bukan tanpa alasan. Bahkan sangat ironis ketika perjalanan waktu sudah berselang lebih dari 12 tahun hingga berakhirnya kepemimpinan Aceh Selatan saat ini. Indera kita masih belum mampu menangkap adanya perubahan yang signifikan. Wilayah ini seperti amat kurang mendapat sentuhan pembangunan. Mungkin lebih pantas dikatakan relatif hampir tidak ada yang berubah. Walaupun disadari memang ada banyak alasan yang membenarkan fenomena tersebut terjadi, adalah karena ada faktor penghalang sehingga Aceh Selatan menjadi zero growth, misalnya konflik bersenjata atau ada sedikit mungkin dari imbas tsunami.

Menurut saya alasan tersebut tidak seluruhnya benar. Ketika saya ingin memperteguh amatan tersebut, seorang teman saya Amsal Amri yang berasal dari wilayah ini mengomentari tentang pertanyaan saya, Apa yang berubah di Aceh Selatan? Jawabnya; Yang berubah di Aceh Selatan hanyalah bibir pantai Lhok Tapaktuan yang sudah ditimbun beberapa meter saja, sedang yang lain tidak ada perubahan .

Jawaban Pak Amsal yang demikian sangat menggelitik pikiran saya, kemudian membuat kami tertawa–– ha, ha, ha. Lalu, seorang warga desa di kawasan Labuhanhaji Teungku Deurih yang juga saya ajukan pertanyaan, Apakah jumlah santri yang menuntut ilmu di Pesantren Syech Muda Waly Labuhanhaji semakin bertambah? . Jawabnya, tidak ada peningkatan, bahkan mengalami penurunan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Menurut Tengku Deurih, karena amat sedikit kemauan dari rezim lama untuk menjadikan pusat pendidikan Islam ini sebagai simbol atau ikon kemegahan pendidikan Aceh Selatan yang pernah jaya di zaman lampau.

Pembangunan fasilitas fisik yang memadai, namun capacity building-nya sangat kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Akibatnya pusat Pendidikan Islam Syech Muda Waly yang pernah diperhitungkan dan disegani di Aceh ini relatif jauh tertinggal bila dibandingkan dengan lembaga pendidikan Islam lain yang muncul pada rentang waktu bersamaan, seperti Perguruan Islam Almuslim di Bireuen, Dayah Cot Kala di Aceh Timur, terakhir kedua lembaga ini telah mentransformasi diri menjadi lembaga pendidikan Islam modern yang saat ini semakin berkembang pesat.

Memang, tidaklah semua kemajuan itu terletak pada upaya pemerintah semata. Rakyat juga mesti berperan, namun pemerintah memiliki kewajiban untuk menciptakan dan mempertahankan aset yang pernah mengharumkan nama Aceh Selatan ini di pentas pendidikan daerah bahkan di tingkat nasional. Saat ini yang terjadi adalah bau harum itu semakin memudar disapu awan yang berarak di lekuk pantai Samadua, di atas Gunong Meukek, di atas laut Pasi Raja dan awan di atas Jambo Hatta .

Di sisi lain, ada yang lebih miris lagi, bahwa tirai-tirai kemiskinan yang menyelimuti wilayah ini dari waktu ke waktu semakin tebal. Jumlah orang miskin di Aceh Selatan dalam tahun 2006 menurut versi BPS NAD 2006 tercatat 109.960 orang (57,41 persen) dari jumlah penduduknya. Demikian juga jumlah penduduk yang tidak memiliki pekerjaan tetap alias penganggur tak kentara (disquised unemployment) semakin hari semakin bertambah. Ada lagi potret buram yang sering terlupakan bahwa penduduk yang sebelumnya ber-KTP sebagai petani dan nelayan asal Aceh Selatan yang bermigrasi ke ibukota Provinsi NAD semakin meningkat. Jumlah mereka yang saat ini bekerja pada berbagai sektor informal telah meningkat dalam 10 tahun terakhir.

Pernah kami catat dalam tahun 1997, jumlah mereka yang melakukan kegiatan sektor informal pada enam pusat pasar di Banda Aceh, yaitu sekitaran Pasar Peunayong, Pasar Aceh, Pasar Baru, Pasar Seutui, Pasar Beurawe, dan Pasar Keutapang melebihi dua ratusan orang, kini telah meningkat lagi. Mereka ada yang menjadi pengendara becak dan sopir angkot, penjahit sandal dan sepatu, pelayan rumah makan dan toko, pedagang sayuran dan buahan, pedagang ikan keliling dan di kaki lima. Tak sedikit yang menjadi kuli bangunan dan pembantu rumah tangga. Mereka datang dari berbagai wilayah kecamatan dan desa di Aceh Selatan.

Selain konflik Aceh saat itu, faktor pemicu mereka bermigrasi ke pusat ibukota, karena produktivitas dan nilai tukar hasil pertanian dan nelayan yang rendah sehingga mereka hidup melarat di kampung halamannya. Kebijakan pembangunan pertanian yang tidak fokus serta terkesan membiarkan pertumbuhan alami tanpa sentuhan nyata telah menyebabkan areal tanaman pala dan produksi pala sebagai komoditas unggulan ambruk. Itulah nuktah-nuktah kecil yang sempat terekam tentang fenomena Aceh Selatan saat ini.

Sajak Pala

Sekarang pemimpin baru––bupati/wakilnya sudah dilantik. Mampukah kedua melirik ulang sajak pala? untuk membuat daerah itu kembeli meraih nuansa keceriaan? Dan dua hal yang harus menjadi entri point dan prioritas memacu Aceh Selatan yang lebih baik ke depan, yaitu penguatan pembangunan mutu pendidikan untuk melahirkan sumberdaya manusia yang selaras dengan penataan ulang program pembangunan pertanian dan perikanan, serta industri manufaktur yang berbasis sumberdaya lokal. Hanya dengan ini diyakini Aceh Selatan dapat bangkit dan keluar dari ketelatan dan keterbelakangan . Pada langkah berikut barulah kantong kemiskinan yang semakin menebal secara perlahan dapat dikempeskan. Sehingga keinginan kita untuk hidup setara dan lebih maju dari daerah lain bukan hanya retorika dan utopia, tetapi benar-benar menjadi kenyataan.


[ penulis: Dr. Ishak Hasan, M.Si | topik: Masalah Sosial ]
*) Penulis adalah Dosen Pendidikan Ekonomi FKIP Unsyiah