Sabtu, 08 November 2008

Hikayat Pala; Mengempeskan Kemiskinan


Prosesi Pilkada Aceh Selatan telah usai. Biasa dalam berdemokrasi ada riak-riak yang tersisa, diharapkan bisa menjadi dinamika di daerah penghasil pala itu. Sebab seperti janji para kandidat, di depan terbentang harapan bagaimana merealisirnya. Dua program utama yaitu mengempeskan kemiskinan dan mengusir keterbelakangan lewat usaha memacu pendidikan.

Memang sekarang ini hikayat negeri pala itu tak seindah untaian sajak Ketika Pala Mulai Berbunga oleh almarhum Sayed Mudhahar Ahmad (mantan bupati Aceh Selatan). Ketika itu nuansa keceriaan begitu kentara. Berikut sajaknya:

//Ketika pala mulai berbunga/ Burung-burung syairkan kerinduan/ Tentang air yang mengalir dari hutan/ Tentang jalan setapak yang panjang/ Ketika pala mulai berbunga/ Ada angin nyanyikan cinta/ Embun berkilau di daunannya/ Pelangi menari di tangkainya/ Tiba saatnya memetik rembulan dan matahari/ musim panen ladang sendiri, dari ladang sendiri/ Zamrut yang hijaukan hutan-hutan adalah bias masa depan/ Ketika pala mulai berbunga/ Wanginya mekarkan cita-cita/ Ketika pala mulai berbunga/ Ada cahaya di raut wajah bunda.

Untaian dari sajak itu, menurut Fachry Ali dalam artikelnya Mengayuh Diantara Dua Sajak; Essay Tentang Aceh Selatan , menukilkan pengharapan, basis ekonomi dan sekaligus sebagai simbol yang menggerakkan roda kemasyarakatan. Lewat simbol buah pala, sang penyair menarik identitas sosial ekonomi Aceh Selatan ke masa lampau. Demikian tulis Fakhry Ali tentang Aceh Selatan. Kini nuansa keceriaan itu semakin meredup, embun tidak lagi berkilau di daunannya, pelangi tidak lagi menari di tangkainya.

Sekitar penghujung tahun 1984, ketika Profesor Ibrahim Hasan masih menjabat sebagai gubernur Aceh, beliau pernah membandingkan perkembangan kemajuan dan kesenjangan antar wilayah di Aceh hingga mengidentikkan Aceh Selatan sebagai Aceh Ketelatan . Maknanya menurut Ibrahim Hasan, Aceh Selatan merupakan bagian wilayah Aceh yang terlambat pembangunannnya, sehingga relatif tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itu menurutnya harus ada kemauan keras dari berbagai lapisan masyarakat agar bersinergi memacu kemajuan pembangunan dalam wilayah ini. Dengan demikian label negatif ketelatan, ketertinggalan dan keterbelakangan dapat segera sirna. Demikian beberapa potong kalimat yang pernah terucap dari mulut Gubernur Aceh kala itu. Penggalan kalimat tersebut memperkuat memori saya ketika almarhum Sayed Mudhahar Ahmad mantan Bupati Aceh Selatan masih mengulang-ngulangnya lagi beberapa waktu kemudian.

Penamaan Aceh Selatan sebagai Aceh Ketelatan bukan tanpa alasan. Bahkan sangat ironis ketika perjalanan waktu sudah berselang lebih dari 12 tahun hingga berakhirnya kepemimpinan Aceh Selatan saat ini. Indera kita masih belum mampu menangkap adanya perubahan yang signifikan. Wilayah ini seperti amat kurang mendapat sentuhan pembangunan. Mungkin lebih pantas dikatakan relatif hampir tidak ada yang berubah. Walaupun disadari memang ada banyak alasan yang membenarkan fenomena tersebut terjadi, adalah karena ada faktor penghalang sehingga Aceh Selatan menjadi zero growth, misalnya konflik bersenjata atau ada sedikit mungkin dari imbas tsunami.

Menurut saya alasan tersebut tidak seluruhnya benar. Ketika saya ingin memperteguh amatan tersebut, seorang teman saya Amsal Amri yang berasal dari wilayah ini mengomentari tentang pertanyaan saya, Apa yang berubah di Aceh Selatan? Jawabnya; Yang berubah di Aceh Selatan hanyalah bibir pantai Lhok Tapaktuan yang sudah ditimbun beberapa meter saja, sedang yang lain tidak ada perubahan .

Jawaban Pak Amsal yang demikian sangat menggelitik pikiran saya, kemudian membuat kami tertawa–– ha, ha, ha. Lalu, seorang warga desa di kawasan Labuhanhaji Teungku Deurih yang juga saya ajukan pertanyaan, Apakah jumlah santri yang menuntut ilmu di Pesantren Syech Muda Waly Labuhanhaji semakin bertambah? . Jawabnya, tidak ada peningkatan, bahkan mengalami penurunan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Menurut Tengku Deurih, karena amat sedikit kemauan dari rezim lama untuk menjadikan pusat pendidikan Islam ini sebagai simbol atau ikon kemegahan pendidikan Aceh Selatan yang pernah jaya di zaman lampau.

Pembangunan fasilitas fisik yang memadai, namun capacity building-nya sangat kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Akibatnya pusat Pendidikan Islam Syech Muda Waly yang pernah diperhitungkan dan disegani di Aceh ini relatif jauh tertinggal bila dibandingkan dengan lembaga pendidikan Islam lain yang muncul pada rentang waktu bersamaan, seperti Perguruan Islam Almuslim di Bireuen, Dayah Cot Kala di Aceh Timur, terakhir kedua lembaga ini telah mentransformasi diri menjadi lembaga pendidikan Islam modern yang saat ini semakin berkembang pesat.

Memang, tidaklah semua kemajuan itu terletak pada upaya pemerintah semata. Rakyat juga mesti berperan, namun pemerintah memiliki kewajiban untuk menciptakan dan mempertahankan aset yang pernah mengharumkan nama Aceh Selatan ini di pentas pendidikan daerah bahkan di tingkat nasional. Saat ini yang terjadi adalah bau harum itu semakin memudar disapu awan yang berarak di lekuk pantai Samadua, di atas Gunong Meukek, di atas laut Pasi Raja dan awan di atas Jambo Hatta .

Di sisi lain, ada yang lebih miris lagi, bahwa tirai-tirai kemiskinan yang menyelimuti wilayah ini dari waktu ke waktu semakin tebal. Jumlah orang miskin di Aceh Selatan dalam tahun 2006 menurut versi BPS NAD 2006 tercatat 109.960 orang (57,41 persen) dari jumlah penduduknya. Demikian juga jumlah penduduk yang tidak memiliki pekerjaan tetap alias penganggur tak kentara (disquised unemployment) semakin hari semakin bertambah. Ada lagi potret buram yang sering terlupakan bahwa penduduk yang sebelumnya ber-KTP sebagai petani dan nelayan asal Aceh Selatan yang bermigrasi ke ibukota Provinsi NAD semakin meningkat. Jumlah mereka yang saat ini bekerja pada berbagai sektor informal telah meningkat dalam 10 tahun terakhir.

Pernah kami catat dalam tahun 1997, jumlah mereka yang melakukan kegiatan sektor informal pada enam pusat pasar di Banda Aceh, yaitu sekitaran Pasar Peunayong, Pasar Aceh, Pasar Baru, Pasar Seutui, Pasar Beurawe, dan Pasar Keutapang melebihi dua ratusan orang, kini telah meningkat lagi. Mereka ada yang menjadi pengendara becak dan sopir angkot, penjahit sandal dan sepatu, pelayan rumah makan dan toko, pedagang sayuran dan buahan, pedagang ikan keliling dan di kaki lima. Tak sedikit yang menjadi kuli bangunan dan pembantu rumah tangga. Mereka datang dari berbagai wilayah kecamatan dan desa di Aceh Selatan.

Selain konflik Aceh saat itu, faktor pemicu mereka bermigrasi ke pusat ibukota, karena produktivitas dan nilai tukar hasil pertanian dan nelayan yang rendah sehingga mereka hidup melarat di kampung halamannya. Kebijakan pembangunan pertanian yang tidak fokus serta terkesan membiarkan pertumbuhan alami tanpa sentuhan nyata telah menyebabkan areal tanaman pala dan produksi pala sebagai komoditas unggulan ambruk. Itulah nuktah-nuktah kecil yang sempat terekam tentang fenomena Aceh Selatan saat ini.

Sajak Pala

Sekarang pemimpin baru––bupati/wakilnya sudah dilantik. Mampukah kedua melirik ulang sajak pala? untuk membuat daerah itu kembeli meraih nuansa keceriaan? Dan dua hal yang harus menjadi entri point dan prioritas memacu Aceh Selatan yang lebih baik ke depan, yaitu penguatan pembangunan mutu pendidikan untuk melahirkan sumberdaya manusia yang selaras dengan penataan ulang program pembangunan pertanian dan perikanan, serta industri manufaktur yang berbasis sumberdaya lokal. Hanya dengan ini diyakini Aceh Selatan dapat bangkit dan keluar dari ketelatan dan keterbelakangan . Pada langkah berikut barulah kantong kemiskinan yang semakin menebal secara perlahan dapat dikempeskan. Sehingga keinginan kita untuk hidup setara dan lebih maju dari daerah lain bukan hanya retorika dan utopia, tetapi benar-benar menjadi kenyataan.


[ penulis: Dr. Ishak Hasan, M.Si | topik: Masalah Sosial ]
*) Penulis adalah Dosen Pendidikan Ekonomi FKIP Unsyiah

1 komentar:

Putra Labuhan Haji mengatakan...

saya sangat tersanjung atas tulisan Pak Ishak. Saya harap ada sekumpulan putra Aceh Selatan yang mau menyedekahkan idenya untuk membangun negeri pala ini.